Oleh: pejuangpos | Januari 3, 2008

TERORIS


TERORIS Nov 20, ’07 8:0

Istilah terorisme bukan suatu hal yang kompleks, bahkan secara bahasa istilah ini tidak mampu memberikan arti secara menyeluruh. Lalu kenapa orang lambat sekali dalam menempatkan definisi istilah ini? Dari fakta yang ada, terdapat sebuah kedengkian di balik semua ini, karenanya dibutuhkan definisi yang menyeluruh termasuk variasi komponen-komponennya dan batasan-batasan yang diperlukan dari aspek yang berlawanan dengan komponen tersebut.

Kalau mau dirunut, pencitraan teroris selalu akan berbolak-balik dengan pengatribusian patriot, pahlawan atau sejenisnya. Jenderal Sudirman adalah pahlawan bangsa Indonesia, tetapi dianggap ekstrimis (waktu itu istilah teroris belum populer) oleh pemerintah Belanda; pasukan jihad adalah mujahidin di kampung masing-masing, tetapi dianggap teroris oleh sebagian masyarakat di Ambon; pejuang-pejuang TNI di Timtim pernah mendapat bintang Seroja dari pemerintah, tetapi kini diadili sebagai teroris; Socrates dan Galilei Galileo adalah ilmuwan-ilmuwan yang dihukum mati oleh penguasa pada masanya, tetapi kini teori-teori mereka menjadi dasar dan dianut dunia ilmu pengetahuan modern; dan sebagainya. Jadi, semua itu terpulang kepada dari sudut mana kita melihat atau menilai terorisme. Dari sudut korban atau yang terancam, suatu perbuatan akan disebut sebagai terorisme (atau antirevolusi, atau ekstrimis), sementara dari pandangan kelompok si pelaku, perbuatannya adalah patriotisme (martir, atau kepahlawanan).

Situasi diatas terjadi di PT Pos Indonesia, penggunaan istilah terorisme dengan mudah digunakan saat menghadapi masalah korupsi yang mendera Wilpos IV Jakarta.

Dalam satu kesempatan acara penutupan pemeriksaan yang dilakukan oleh SPI ( satuan pengawasan Internal ) seorang pejabat Pos memberikan perumpamaan tentang masalah yang dihadapi PT Pos dengan menyebut bahwa jika diibaratkan PT Pos ini sebuah pesawat yang sedang dihadang badai besar, pilot dan kru pesawat sedang sibuk membenahi dan mengatur agar pesawat tidak drop , ternyata didalam pesawat itu ada terorisnya.

Siapa yang dimaksud dengan teroris dalam tubuh PT Pos Indonesia itu ? tentu semua lapisan tahu siapa teroris itu, mereka adalah oknum-oknum yang melaporkan adanya kasus korupsi di Wilpos IV. Sebutan teroris itu ungkapan emosional karena merasa akibat ulah pelapor itu CITRA PT Pos Indonesia rusak di mata masyarakat, kepercayaan masyarakat akan hilang, itu artinya merusak 29.000 lebih periuk nasi pegawai PT Pos Indonesia.

Mungkin kita tersadar dengan tulisan pembuka diatas, dari sudut pandang siapa perbuatan oknum yang melaporkan kasus korupsi itu sebagai terorisme ? Mungkin pihak-pihak yang harus menanggung resiko akibat berita itu dengan tegas-tegas menilai pelapor sebagai terorisme yang telah menteror ketenangan mereka yang sedang menikmati hasil jerih payah mereka selama menjadi pejabat.

Atau ada pihak-pihak yang merasa diteror karena harus berhadapan dengan pejabat ”gedung bundar” atau mereka yang sedang beramah tamah dengan polisi karena harus menghadapi pengaduan korupsi.

Pada saat ini sebelum proses hukum selesai, boleh boleh saja pejabat PT Pos menggunakan istilah Teroris untuk menyudutkan oknum-oknum yang dituduh telah melaporkan kasus korupsi di Wilpos IV .

Kita belum tahu sampai sejauh mana pembuktian di pengadilan kelak.

Bisa jadi oknum pelapor akan berubah status jika kasus korupsi di Wilpos IV ini bisa dibuktikan.

Yang perlu menjadi catatan kita untuk membuktikan dugaan kasus korupsi sangat sulit serta memerlukan pengorbanan yang kadang tampak sia-sia.

Berjuanglah terus teroris PT Pos Indonesia, waktu yang akan membuktikan siapa yang sebenarnya layak disebut teroris.


Responses

  1. hidup teroris…….

    basmi korupsi…..

  2. ya, pt pos lagi ngapain pake istilah teroris? mirip pemberitaan bom bali saja


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: