Oleh: pejuangpos | Januari 3, 2008

Pikiranku


PIKIRANKU Oct 30, ’07 3:14 AM
for everyone

 

Pikiranku menciptakan dalam diriku hasrat untuk menggali tanah dengan ujung kakiku, memetik hasil panen dengan sabitku, membangun rumahku dengan batu dan mortar dan mengibarkan pakaianku dengan benang-benang wool dan kapas.

 

Semua yang berlebihan tidak mendatangkan kebaikan, penampilan sebagai pegawai PT Pos Indonesia yang berlebihanpun juga dapat menimbulkan masalah, untuk mengetahui sampai sejauh mana dampak berlebih-lebihannya penampilan seorang kepala kantor kami mencoba melakukan wawancara imajiner dengan salah seorang dari saksi pelapor dugaan kasus korupsi di Wilpos IV Jakarta yang berinisial SSI. Berikut petikannya :

Ø      TIM  : Bagaimana awalnya saudara sampai bersusah payah mau menghabiskan waktu hanya untuk mengungkap beberapa penyimpangan di Wilpos IV ini ?

Ø      SSI   : Awalnya sederhana saja, saya melihat betapa berlebih-lebihannya seorang kepala kantor pos ( KKP ) di Jakarta sementara banyak stafnya yang hidup dalam kekurangan serta terlilit hutang. Saya melihat entah dari mana penghasilan seorang KKP yang sering main golf sementara saya tahu gaji seorang pegawai pos sangat cukup hanya untuk hidup sederhana, untuk membayar uang sekolah anaknya dan sisanya untuk mencicil rumah atau mobil. Setelah saya amati ternyata  para KKP mempergunakan dana kantor untuk main golf dengan alas an pembinaan ke para pelanggan.

Ø      TIM  : Bukankan masalah itu wajar dan lumrah dilakukan untuk menjaga hubungan bisnis, lantas apa yang membuat saudara menjadi begitu sangat tertarik ?

Ø      SSI  :  Awalnya sih biasa saja, mengeluarkan dana untuk golf, menyambut tamu dan sedikit dibagi ke karyawan dalam bentuk sumbangan kegiatan kesenian dan lain-lain. Lama-lama semakin jauh, mulailah membeli peralatan pendukung seperti notebook, Handphone dengan merk tertentu. Karena kecurangan ini masih dikemas dalam bentuk peningkatan kinerja kantor, tampanya tidak menimbulkan masalah. Semakin ketatnya persaingan di Jakarta menimbulkan banyak kebutuhan untuk mempertahankan para pelanggannya kepala kantor mendapat tambahan dana pemasaran dari kantor Wilayah. Sampai tingkatan ini semua berkalan wajar,kalaupun ada kecurangan sifatnya masih kecil-kecilan.Coba dibayangkan dari pengeluaran untuk komisi ke PT Ogilvy One Worldwide sebulan hanya Rp 8.593.000, lantas berapa yang bisa diperoleh oleh Pejabat kantor Pos, kalaupun ada jumlahnya tidak lebih dari Rp 1.000.000. Itu dari satu pelanggan kalau satu kantor punya 10 pelanggan, mungkin hanya sekitar Rp 10.000.000 an lah sebulan yang diperoleh oleh kantor itu.

Ø      TIM  : Menurut saya jumlah Rp 10.000.000 sebulan itu tidak terlalu berlebihan apalagi jika melihat banyaknya kegiatan kantor yang harus dilakukan seperti membayar biaya komunikasi dan lain lain, bagaimana menurut saudara ?

Ø      SSI : kalau melihat jumlah Rp 10.000.000 memang kecil, tetapi karena kebutuhan terus meningkat sehingga ada kepala kantor yang mulai memasuki wilayah-wilayah ”terlarang”. Adanya kemudahan pemberian izin dari kantor Wilayah membuat bertemunya ”NIAT” untuk melakukan kecurangan dengan”KESEMPATAN” untuk melakukan kecurangan. Jika ada kegiatan tertentu di pelanggan ( misalnya peringatan hari jadi  perusahaan )kesempatan ini dipergunakan untuk mengumpulkan dana, ke kantor Wilayah minta izin biaya berpartisipasi sebesar Rp 25.000.000 ternyata yang diserahkan ke panitian hari jadi hanya Rp 15.000.000 sehingga kelebihan sebesar Rp 10.000.000 menjadi tambahan bagi kantor itu.

Ø      TIM : Maaf , saya tidak melihat yang istimewa dari apa yang saudara sampaikan , mungkin bisa dijelaskan yang lainnya?

Ø      SSI : Mari kita sama-sama melihat pengertian ”KORUPSI” yaitu setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Apakah perbuatan diatas tidak termasuk katagori korupsi?. Mungkin kalau tidak untuk memperkaya diri bolehlah kita lepaskan dari pengertian korupsi, tetapi kalau uang tersebut dipergunakan untuk membeli rumah atau ditabung di bank tentu masuk dalam katagori korupsi.

Ø      TIM : Rupanya karena ada unsur korupsi itulah saudara terus maju untuk membongkar dugaan korupsi ini. Apakah tidak ada unsur balas dendam karena sakit hati kepada para pejabat PT Pos kemudian saudara ngotot membongkar kasus ini ?

Ø      SSI  : Apa yang saya lakukan murni untuk kepentingan perbaikan di PT Pos Indonesia, tidak ada sama sekali unsur balas dendam atau karena saya sakit hati dengan pejabat PT Pos. Jika dalam perkembangnya ternyata ada yang mengambil manfaat dari apa yang saya lakukan itu saya tidak tahu menahu. Saya  dengan penuh kesabaran sebenarnya sudah menyampaikan secara tertutup apa apa yang saya ketahui ke pimpinan PT Pos, tetapi tidak satupun yang menanggapinya secara bijaksana. Upaya saya untuk meyakinkan beberapa orang di tingkat pelaksana saja sulitnya minta ampun. Mungkin karena perbuatan melawan hukum itu sudah ”KULINO” dikerjakan sehingga sudah menjadi perbuatan yang lumrah di PT Pos Indonesia, atau mungkin karena banyaknya pegawai pos yang sudah apatis terhadap perusahaanya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: