Oleh: pejuangpos | Juni 18, 2012

BARA YANG TAK KUNJUNG PADAM



Tak ada asap kalau tak ada api, pribahasa yang sering kita dengar sehari hari untuk melukiskan suatu kejadian yang tidak berdiri sendiri tetapi saling berkait satu sama lainnya seperti halnya rencana AKSI DAMAI tanggal 28 Juni 2012 yang akan digelar oleh SPPI.

Aksi damai SPPI tak akan muncul bila ada titik temu antara kepentingan karyawan dan kepentingan perusahaan. Memang benar masing masing pihak harus memperjuangkan sendiri kepentingannya.
Lek Wawensa ( lech Walensa) pejuang buruh di Polandia yang berhasil menjadi Presiden disaat kepemimpinannya dia tidak menaikan gaji bagi buruh yang berhasil mendorongnya jadi Presiden sebab menurut dia harus buruh sendiri yang menyelesaikan masalahnya buka negara. Jadi masalah buruh harus diselesaikan oleh buruh sendiri.

Apa yang menjadi “api” dari rencana aksi damai tersebut? Apakah benar akibat belum diseselaikannya masalah masalah “hubungan industrial”? jika menelisik masalah hubungan induatrial maka ada pihak ketiga yang bisa menjadi penengah, sudahkan PT Pos pernah mengikutsertakan pemerintah dalam menyelesaikan masalah ini?

Benarkan hanya itu masalahnya sehingga SPPI melakukan aksi damai?
Restrukturisasi perusahaan yang belum menjamin peningkatan kesejahteraan karyawan juga diusung sebagai tema aksi demo oleh SPPI.
Secara teori Restrukturisasi harus dilakukan, tetapi bagaimana kesiapan untuk melakukan Restrukturisasi itu? Kesiapan bukan hanya tanggungjawab perusahaan saja tetapi juga menjadi tanggungjawab karyawan. Bagaimana mengukur kesiapan masing masing? Sangat sulit melakukan penilaian jika tidak didasarkan pada “kepercayaan” diantara masing masing pihak.

Tampaknya sejak tahun 2005 manajemen PT Pos Indonesia hanya mampu memadamkan “API” dari setiap aksi damai SPPI tetapi gagal memadamkan “BARA”nya.
Api bisa dipadamkan dengan “siraman” kesepakatan memenuhi tuntutan SPPI tetapi baranya tetap menyala hingga kini. Baranya tidak mudah ditemukenali sehingga sulit untuk dipadamkan, siraman kebijakan selalu saja bagai memberi minum air laut kepada mereka yang haus, semakin banyak diminum maka semakin haus saja.
Benar pendapat Lek wawensa bahwa SPPI harus bisa menyelesaikan masalahnya sebelum berunding dengan perusahaan.

Bara yang tersimpan didasar perusahaan hanya bisa disirami dengan air kejujuran, air ketulusan. Bara akan menjadi api jika disirami dengan air kebohongan, air kepura-puraan.

Jadi BARA dalam perusahaan menjadi tanggungjawab pejabat perusahaan dan pejabat SPPI apakah akan dijadikan api atau ingin dipadamkan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: